Pentingnya belajar Ilmu Tajwid sebagai metode membaca Al qur'an




    Mempelajari ilmu tajwid itu merupakan hal yang penting. Bagaimana bacaan Al Qur'an kita akan baik  jika kita tidak memahami ilmu tersebut. Allah subhanahu wa ta'ala telah memberikan pernyatan yang tegas dalam Al Qur'an:
"Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan." (QS. al Muzammil: 4)

Adapun alasan mengapa hukum membaca al-Qur’an dengan tajwid adalah fardhu ‘ain, Al Imam Ibnu al-Jazari rahimullah berkata dalam kitabnya Mandzumah al-Jazariyah.

وَالْأَخْذُ بِالتَّجْوِيْدِ حَتْمٌ لَازِمٌمَنْ لَمْ يُجَوِّدِ الْقُرْآنَ آثِمٌلِأَنَّهُ ِبهِ الْإِ لٰهُ أَنْزَلَاوَهٰكَذَا مِنْهُ إِلَيْنَا وَصَلَا

Membaca (al-Qur’an) dengan tajwid hukumnya wajib
Barang siapa yang membacanya tidak dengan tajwid ia berdosa
Karena dengan tajwidlah Allah menurunkan al-Qur’an
Dan demikian pula al-Qur’an itu sampai kepada kita.

Berdasarkan dalil diatas, kaum Muslimin diwajibkan membaca al-Qur’an dengan tajwid. Oleh karena itu ilmu tajwid merupakan ilmu yang sangat penting dipelajari oleh kaum Muslimin dan cara terbaik yaitu dengan talaqqi yaitu berguru kepada seorang ahli secara langsung atau berhadap-hadapan, sebagaimana Rasulullah صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ  pun langsung diajarkan oleh malaikat Jibril عَلَيْهِ السَّلَامَ .

Di dalam ilmu tajwid dibahas mengenai hal-hal penting di antaranya mengenai pengucapan huruf Hija'i yang berjumlah 29 huruf dari huruf Alif sampai dengan Ya. Itu dikenal dengan Makharijul Huruf (tempat keluarnya huruf). Satu huruf dengan huruf lainnya memiliki karakter sendiri-sendiri. Berbeda makhraj dan sifatnya. 

Ketika kita mengucapkan satu kata atau huruf dalam Al Qur'an, maka artinya pun akan berbeda. Sebagai contoh, kata 'asaa (yang memiliki makna pengharapan), jika huruf Sin-nya diganti Shad, maka akan menjadi 'ashaa maknanya berbuat maksiat (kata kerja) atau tongkat (kata benda). 

Contoh lain, kata 'aalamiin memiliki makna beberapa alam (seperti alam manusia, malaikat, jin dan sebagainya), jika huruf yang pertama (huruf 'ain) diganti dengan huruf Hamzah menjadi aalamiin (artinya segala penyakit). Nah sungguh fatal sekali akibatnya, bukan!

Dalam ilmu tajwid juga dibahas tentang hukum mad (memanjangkan bacaan). Salah memanjang dan memendekkan huruf maka akan merubah arti atau maknanya. Lihatlah contoh berikut. 

Di dalam surat Al Kafirun ayat 2 disebutkan:

 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢                                                                                                

 "Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah."

Huruf Lam dalam ayat tersebut harus dibaca panjang 4-5 harakat, dan ini dinamakan dengan Mad Jaiz Munfashil. Dan arti laa (panjang) di atas adalah tidak (menafikan). Jika huruf Lam itu  dibaca pendek (la), maka akan memiliki arti sungguh (menguatkan). Jadi arti ayat tersebut adalah:

"Sungguh aku akan menyembah apa yang kamu sembah".

Bagaimana dengan makna di atas? 

Bandingkan dengan ayat di atas dengan memanjangkan huruf lam-nya. Kalimat yang kedua (berwarna merah) sungguh sangat menyesatkan dan menjurus kepada kekafiran. Wal 'iyaadzu billaah.

Nah itu baru satu contoh, belum lagi jika kita salah dalam membaca ayat-ayat yang lainnya.

Karenanya belajar, belajar dan belajarlah ilmu Tajwid kepada ustadz yang mumpuni (yang ahli) danbertalaqqi (bertemu langsung) dengan ustadz tersebut dalam proses belajar dan mengajarnya, sebagaimana Rasulullah langsung diajarkan oleh malaikat Jibril 'alaihi salaam.

Membaca al-Qur’an dengan makhrajnya hukumnya Wajib dan meninggalkannya hukumnya Haram.
Sifatnya terbagi menjadi dua, yaitu:

Pertama, sifat apabila kita salah menyebutnya maka akan merubah arti. Hukum beristizam/konsisten dengan sifat ini(membaca al-Qur’an dengan tajwid) terjadi ikhtilaf ulama, menjadi 3 pendapat:
1.        Wajib 100%
2.        Tidak wajib, dan ini salah satu pendapat syaikh utsaimin rahimahullahu
3.        Yang benar harus diperinci,
Kedua dari sisi Makhraj:
Membaca al-Qur’an sesuai makhrajnya itu wajib dan meninggalkannya haram, karena dapat merubah arti
Sisi Sifat :
Terbagi 2, yaitu,
1.      Sifat yang apabila kita salah menyebutnya akan merubah makna. Jika kita meninggalkan itizham maka        berarti haram.
2.      Sifat tahsiniah dan ta’ziniah yaitu sifat yang hanya sebagai hiasan saja dalam membaca al-Qur’an.

Huruf Arab terbagi menjadi 2, yaitu:
1.      Huruf Hijaiyyah
 Penyusun huruf hijaiyyah adalah Nashir ibnu ‘Ashim al-Laisyi, beliau wafat pada tahun 90 H.
2.      Huruf Abjadiyyah
 Hukumnya haram jika dipelajari untuk ilmu sihir.

Kemudian sabda Rasulullah صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ ,

إِقْرَءُوا الْقُرْآنَ بِلُحُوْنِ الْعَرَبِ وَأَصْوَاتِهَا وَ ِإيَّاكُمْ وَلُحُوْنَ أَهْلِ الْفِسْقِ وَالْكَبَائِرِ فَإِنَّهُ سَيَجِيْءُ أَقْوَامٌ مِنْ بَعْدِيْ يُرَجِّعُوْنَ الْقُرْآنَ يَرْجِيْعَ الْغِنَاءِ وَالرَّهْبَانِيَّةِ وَالنُّوْحِ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ مَفْتُوْنَةٌ قُلُوْبَهُمْ وَقُلُوْبُ مَنْ يُعْجِبُهُمْ شَأْنُهُمْ.

“Bacalah al-Qur’an sesuai dengan cara dan suara orang-orang Arab. Dan jauhilah olehmu cara baca orang-orang fasik dan berdosa besar. Maka sesungguhnya akan datang beberapa kaum setelahku melagukan al-Qur’an seperti nyanyian dan rahbaniah (membaca tanpa tadabbur) dan nyanyian. Suara mereka tidak dapat melewati tenggorokan mereka (tidak dapat meresap ke dalam hati). Hati mereka dan orang-orang yang simpati kepada mereka telah terfitnah (keluar dari jalan yang lurus).”


Comments

Popular Posts